Terkadang, jarak menjadi problematika dalam menjalin hubungan. Jarak menjadi jurang penghalang bagi kelancaran sebuah hubungan. Entah itu persahabatan, maupun berpacaran. Tentu saja, itu hanya awal dari sebuah rentetan rintangan yang mau tidak mau harus diterima oleh mereka yang melakukan hubungan LDR. LDR adalah long distance relationship. Artinya, pacaran jarak jauh. Nah, inilah letak kesinambungan antara jarak dan hubungan 2 orang manusia. Dari hal ini juga, kesetiaan diuji.
Kamu bilang jarak antara kita indah. Ada rasa yang bisa kita tukar. Seperti aku merasakan apa yang kamu bagi dan kamu merasakan apa yang aku bagi. Lalu kita berdua mendadak terdiam, menyadari jarak dan waktu memang memisahkan kita. Secara harfiah. Kita hanya bisa merasakan rindu tanpa pernah benar-benar bisa menyelesaikannya. Kita merasakan degup jantung berdebar kencang, hanya dari membaca barisan kalimat di layar komputer jinjing masing-masing.
Terakhir kali kita bertemu pun, tak kau gunakan dengan baik. Kau buang kesempatan terakhir kita untuk saling mengungkapkan isi hati, kau biarkan kekecewaan datang kepadaku, menghujam perasaanku. Ya, perasaanku yang galau, bimbang. Ingin sekali memaksamu tuk tetap disini, melanjutkan asa kita. Asa menyatukan hati, menyatukan cinta, tanpa harus terpisah ratusan kilo seperti ini.
Masih terasa hangat dalam kenangan, kau bersumpah untuk akan segera kembali dan tetap masih milikku, milikku seutuhnya. Kau berjanji tak akan mengganti posisiku dengan siapapun dan apapun. Indah ya? Tanpa ba-bi-bu, aku langsung memelukmu, seakan aku benar-benar yakin bahwa suatu saat nanti, kau kembali dan masih tetap menjadi milikku.
Namun, semua janji itu rupanya tak kau indahkan. Sudah hilang tak bersisa. Ditiup angin, laksana diluluhlantakkan tsunami. Ketika aku masih tetap menjaga apa yang telah kita rajut selama ini, ketika aku masih berusaha mengumpulkan puing-puing kenangan, dan ketika aku masih merasakan rindu akan hadirnya dirimu. Tapi kau malah menghempaskan apa yang telah kita rajut selama ini, kau malah membuyarkan puing-puing kenangan, dan kau malah mengganti objek rindumu.
Ya, objek rindumu telah berganti. Bukan aku, bukan aku, bukan aku. Bukan perempuan yang sedang berusaha tersenyum dalam pedihnya. Bukan perempuan yang berusaha menyayangi kekurangan dan kelebihanmu. Bukan perempuan yang tetap tegar dan kuat saat kau berada jauh darinya.
Mana janji manismu? Mana sumpahmu jika suatu saat nanti kau akan kembali dan masih tetap menjadi milikku? Apa semua itu hanya janji-janji palsu? Apa semua itu hanya alibi bahwa kau memang tidak menginginkan untuk melanjutkan semua ini? Dimana lelaki yang mengajarkanku kesetiaan tapi sekarang ia malah bermain api ketika jauh dariku? Dimana lelaki yang mengenalkanku apa itu cinta dan sekarang juga mengenalkannya kepada perempuan lain?
Kau tahu, bagaimana perasaanku saat itu? Aku lelah. Lelah meratapi, menangisi, dan menyesali semuanya. Ternyata semua hanya omong kosong belaka. Sepertinya, cintaku juga ikut mengalir bersama air mata yang keluar dari raga ini. Hatiku pun demikian. Mengenaskan. Penuh sayatan. Tak keruan bentuknya. Entah, kekuatan apa yang mampu memperbaikinya. Karena sudah terlalu buruk, dan selayaknya dibuang ke tempat sampah, dan biarkan hatiku didaur ulang menjadi hati yang baru. Atau, aku kembalikan kepada Tuhan, untuk kutukarkan hatiku dengan hati yang baru, dan aku hanya ingin mengisinya dengan cinta dari Ayah, Ibu, dan terutama, Tuhan.
Ketika aku sudah merasa mampu menata hati dan perasaanku, ketika aku sudah mampu benar-benar tersenyum tanpa air mata yang tersembunyi didalamnya, dan ketika aku sudah berhasil melupakanmu, kau datang. Kau datang kembali. Membawa sejuta harapan, membawa mimpi yang pernah kita rajut bersama. Who do you think you are? Seenaknya saja kau datang, lalu pergi. Datang lagi, pergi lagi. Dan sekarang kau dengan gagah berani menunjukkan batang hidungmu di hadapanku. Tak ingatkah kau atas apa yang telah terjadi? Kau meninggalkan hatiku, disana. Di tempat yang tak pernah kuinginkan hatiku ada disana. Tempat yang penuh dengan pengkhianatan, berteman sepi, amarah, tangis, dan semua hal yang berkaitan dengan kepedihan.
Maaf, jika kau terlalu pintar untuk melupakanku, menjalin cinta baru, dan sekarang memintaku lagi, aku juga tak terlalu bodoh untuk kau bodohi, kau bohongi, kau permainkan perasaanku, lalu sekarang menerimamu untuk menjadi bagian hidupku lagi. Maaf? Aku tak butuh maafmu. Percuma. Maaf tak kan mampu memperbaiki hatiku yang telah kau luluhlantakkan dengan ketidaksetiaanmu itu. Pergilah. Karena aku tak membutuhkan kehadiranmu lagi disini. Aku tak merasa rindu, kangen, dan semacamnya saat kau datang kembali. Karena kau juga telah merasakan bahagia, dicinta oleh Yang Mempunyai Cinta Sejati, karena Dia tak kan meninggalkanku, mengkhianatiku, seperti apa yang telah kau lakukan kepadaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar