Hanya sebatas teman, mungkin memang selamanya hanya sebatas teman.
Hanya sebatas suka, mungkin memang selamanya hanya sebatas suka.
Mungkin harapanmu, tidak pernah dan tidak akan pernah sejauh harapanku.
Ya, harapanku untuk memiliki hatimu.
Tidak pernah terbesit sedikitpun olehmu kan?
Selalu saja.
Kau pintar membuatku kebingungan akan semua sikapmu.
Melayang, jatuh, melayang lagi, dan jatuh lagi.
Apa memang itu maumu?
Aku bukan layang-layang!
Tapi, lagi, lagi, dan lagi.
Seperti ditampar tangan sendiri.
Saat hatiku bergejolak, ingin mendapatkan perhatian lebih darimu.
Saat rinduku tak pernah diindahkan olehmu.
Aku harus sadar, bahwa aku bukan siapa-siapa bagimu.
Jadi, aku tidak pantas untuk menuntut perhatianmu.
Mungkin, kau memang tidak sadar.
Sikapmu yang menurutmu biasa, tapi menurutku itu istimewa.
Apa memang semua ini hanyalah suatu hal yang biasa untukmu?
Iya, sesederhana itu aku menyayangimu.
Aku hanya ingin tahu, butuh berapa kkal untuk melelehkan hatimu yang beku itu?
Aku hanya ingin tahu, apakah aku bisa mengajarimu bahasa perasaan, sehingga kau lebih peka terhadapku?
Aku hanya ingin tahu, butuh berapa kJ untuk bisa meluluhkan semua perasaan dinginmu itu?
Aku munafik, aku memang munafik.
Aku bilang, aku sudah tidak menganggap percakapan malam itu ada.
Tidak, kamu tidak pernah berkata bahwa kau menyukaiku, begitu pula aku.
Tidak, kita tidak pernah saling berjanji untuk mengiyakan semua pertanyaan tentang kedekatan kita.
Tidak, kita tidak pernah saling berjanji bahwa suatu saat kita akan jadi satu.
Tapi nyatanya?
Aku masih saja selalu mengharapkanmu.
Aku masih saja selalu menunggu namamu muncul di kotak pesanku.
Aku masih saja selalu menunggu.
Ya, aku pernah berjanji bukan bahwa aku akan selalu berusaha ada untukmu, mendukungmu, menjadi yang selalu memperhatikanmu?
Tapi, semua itu ada batas waktunya.
Tunggu saja, tapi jangan pernah menyesal jika suatu saat kau sadar dan menengok ke belakang, bahwa aku tak ada lagi disana.
Mungkin saat itu, aku sudah terlampau lelah untuk menunggumu sadar dan beranjak untuk mulai memahamiku.
Semoga tidak terlambat.