Sabtu, 26 Mei 2012

Aku bukan layang-layang!

Tidak ada hubungan istimewa yang sedang menjerat kita.
Hanya sebatas teman, mungkin memang selamanya hanya sebatas teman.
Hanya sebatas suka, mungkin memang selamanya hanya sebatas suka.
Mungkin harapanmu, tidak pernah dan tidak akan pernah sejauh harapanku.
Ya, harapanku untuk memiliki hatimu.
Tidak pernah terbesit sedikitpun olehmu kan?

Selalu saja.
Kau pintar membuatku kebingungan akan semua sikapmu.
Melayang, jatuh, melayang lagi, dan jatuh lagi.
Apa memang itu maumu?
Aku bukan layang-layang!

Tapi, lagi, lagi, dan lagi.
Seperti ditampar tangan sendiri.
Saat hatiku bergejolak, ingin mendapatkan perhatian lebih darimu.
Saat rinduku tak pernah diindahkan olehmu.
Aku harus sadar, bahwa aku bukan siapa-siapa bagimu.
Jadi, aku tidak pantas untuk menuntut perhatianmu.


Mungkin, kau memang tidak sadar.
Sikapmu yang menurutmu biasa, tapi menurutku itu istimewa.
Apa memang semua ini hanyalah suatu hal yang biasa untukmu?
Iya, sesederhana itu aku menyayangimu.

Aku hanya ingin tahu, butuh berapa kkal untuk melelehkan hatimu yang beku itu?
Aku hanya ingin tahu, apakah aku bisa mengajarimu bahasa perasaan, sehingga kau lebih peka terhadapku?
Aku hanya ingin tahu, butuh berapa kJ untuk bisa meluluhkan semua perasaan dinginmu itu?

Aku munafik, aku memang munafik.
Aku bilang, aku sudah tidak menganggap percakapan malam itu ada.
Tidak, kamu tidak pernah berkata bahwa kau menyukaiku, begitu pula aku.
Tidak, kita tidak pernah saling berjanji untuk mengiyakan semua pertanyaan tentang kedekatan kita.
Tidak, kita tidak pernah saling berjanji bahwa suatu saat kita akan jadi satu.
Tapi nyatanya?
Aku masih saja selalu mengharapkanmu.
Aku masih saja selalu menunggu namamu muncul di kotak pesanku.
Aku masih saja selalu menunggu.

Ya, aku pernah berjanji bukan bahwa aku akan selalu berusaha ada untukmu, mendukungmu, menjadi yang selalu memperhatikanmu?
Tapi, semua itu ada batas waktunya.
Tunggu saja, tapi jangan pernah menyesal jika suatu saat kau sadar dan menengok ke belakang, bahwa aku tak ada lagi disana.
Mungkin saat itu, aku sudah terlampau lelah untuk menunggumu sadar dan beranjak untuk mulai memahamiku.
Semoga tidak terlambat.

I'm in love with PASKIPAT

PASKIPAT = PASukan KImia emPAT
IKAN SEPAT = IKatAN SEbelas iPA empaT

itu adalah 2 rencana julukan untuk kelas XI IPA 4 SMA 1 Kraksaan 2011-2012
mata pelajaran OSN Kimia
tapi memang akhirnya kita memilih PASKIPAT, kalau IKAN SEPAT nanti malah kepleset jadi IKAN SEPET =='

"Horeeeeeeee, aku anak IPA."
Mungkin itu yang kita teriakkan ketika membuka raport kelas X semester 2.
Sebenarnya bukan masalah IPA atau IPS sih *menurutku kedua jurusan itu sama-sama bagus, punya + punya - sendiri, sesuai dengan bakat dan minat juga sih. Kalau aku, insyaAllah bakat dan minat di IPA, tapi ada juga yang di IPS. Bukan yang berkaitan dengan geografi, sejarah dan ekonomi lho ya. Aku bener-bener give up sama 3 pelajaran itu. Nggak pernah nggak remidi. Muahahaha*
Tapi ya dengan aku masuk IPA, aku bisa bebas dari mapel IPS meskipun ada mapel sejarah. *Tapi tetep aja ya, nilaiku tuh nggak bisa naik-naik gitu, parah geeeela. Suka bengong kalau guruku cas cis cus menjelaskan tentang sejarah* *kabuuuur*

Next, di kelas 2 ini lah, aku benar-benar merasa jadi anak SMA. Kenapa?
Iya, waktu kelas X aku agak gimana gitu, mungkin memang baru 1 tahun pertama.
Nah, waktu kelas XI ini lah, agak liar *agak lho yaa agak*
Entah itu yang ke kantin waktu pelajaran, nonton film sama temen-temen, dan segala tetek bengek kenakalan khas anak SMA. Wajar dong ya, wajar dong. Hehe. Tapi ya nggak sampai 'nakal' yang gitu kok.
Dan ketika aku menulis ini, H-7 UKK. UKK meeeen, berarti tinggal sebentar lagi aku jadi anak kelas XI.
Nggak tau harus sedih apa seneng, insyaAllah kalau naik ke kelas XII.
UN, SNMPTN, UAS, UAP, pentas seni, dan serentetan acara full buat anak kelas XII *parahnya, pentas seni dimajukan ke semester 1.* yang menyedot perhatian, waktu, tenaga, dan uang *makanya, ga mau pacaran dulu, tambah ruwet nanti kalau ada yaang butuh ekstra perhatian, hahaha. alibi =='*

Di PASKIPAT ini, wali kelasnya super cantik, super baik *tapi pernah ngamuk lho, waktu pelajaran PLH, presentasi salah satu kelompok ga siap, lagi PMS kali ya*, super gahool *pernah rujakan waktu pelajaran PLH nglesot di depan kelas* super ga jaim, dan super lainnya.
Bu Fauziatul Mukhtaromah *semoga ga salah nulis* :D

Nih ya, aku kenalin urut absen :


  1. Agnes Maria Tri Wijaya a.k.a. Agnes *Muka-muka sedikit oriental gitu, baik*
  2. Agus Hardyansyah a.k.a. Agus *Dipanggil "Mama" khas suara hexos*
  3. Ananda Aratyamaina Al-Arofi a.k.a. Nanda *Si kerempeng IPA 4, jago main gitar, mantannya ketua kelas *ups**
  4. Andi Prasetyo a.k.a. Yoyok/Andi *Bulan-bulanannya anak IPA 4 :D*
  5. Arividya Prahastuti a.k.a. Vidya, Arep *Si ketua kelas, mantannya Nanda, cantik tapi rocker, vokalis, sahabatku waktu TK dan sekarang*
  6. Ayu Siti Hartinah a.k.a. Ayu, Celeng *Si bendahara, sangar, kalau ngomong selalu bernada tinggi, suka makan ikan*
  7. Della Ryantica Kusumahati a.k.a. Della *Si dedeknya IPA 4, mungil, lucu, imut, unyu, cantik, pinter, suka makan, pipinya tembem*
  8. Dewi Alfu Lailah a.k.a. Dewi/Alfu *pacarnya Riski, pujaannya pak Tomi*
  9. Dewi Purnawati a.k.a. Dewi, Ceret *Mbak penjual pulsa, baik*
  10. Dieni Nur Wahyuni a.k.a. Dini *Cerewet, kerempeng, riweuh kalau ada jerawat, pinter*
  11. Eki Samberyani a.k.a. Eki *Cerewet, suka nyanyi, baik*
  12. Enik Ngalista a.k.a Enik *PD nya overdosis, kadang GJ, suka nyolot, nggak ada dia nggak rame*
  13. Fanny Liestya Nurani a.k.a. Teteh, Fanny *pinter masak, dari Bandung, logatnya lucu*
  14. Fatimatul Maula a.k.a. Mila, Mile *Si rumpis, sama kayak Linda, baik*
  15. Febri Wulandari a.k.a. Febri a.k.a. *baik, narsis*
  16. Firman Maulana a.k.a. Firman, P-Man a.k.a. *gokil, gaul, suka TM, suka masang tampang sok gatau*
  17. Fitri Aries Prayana a.k.a. Fiffie, Feminin *disukai banyak orang, femininininin laaah*
  18. Ike Fatmawati a.k.a. Ike *Suci's deskmate, baik, pinter*
  19. Linda Manohara a.k.a. Linda, Mano' *rumpis, tapi bisa jaga rahasia*
  20. Intan Priscilla Firdiana a.k.a. Intan *pacarnya anak matematika, pinter matematika juga*
  21. Muhammad Agus Sholehuddin a.k.a. Mamad, Mamoth, Agus *mas penjual pulsa, pinter, baik, gaul*
  22. Muhammad Irfan Arganata a.k.a. Arga *si cerdas, benci catur, pemalu, suka baca HP. and etc. :)*
  23. Muhammad Riski a.k.a. Riski *pacarnya Dewi Alfu, Arga's deskmate, pinter, suka nyanyi nggak jelas, pinter main gitar*
  24. Nadia Damayanti Soeripto a.k.a. Nadia *silakan nilai sendiri ya temans :)*
  25. Rachma Anggarani a.k.a. Rani, si Mbah *suka pikun, suka gagal bijak, suka salah grammar, suka salah vocab, kocak, pinter*
  26. Reza Amrullah a,k,a, Reza, Iyek *baik, gaul, pinter main gitar*
  27. Rini Ariyanti a.k.a. Rini *baik, suka nambahi imbuhan -kin*
  28. Serli Dwi Nurhayati a,k,a, *baik pinter, gaul*
  29. Silvi Dwi Marta a.k.a. SIlvi *lucu kalo dibuat marah, baik*
  30. Solihin Tri Bagaskara a.k.a. Solihin, Ustad *Ustadnya IPA 4, si cabul, si gembel, lucu, baik*
  31. Stevano Prajabakti M.K.P. a.k.a. Vavan *paling muda, baik, pinter main gitar*
  32. Suciatiningsih a.k.a. Suci *tukang tidur, pinter, baik, suka ngelamun*
  33. Yeni Purwanti a.k.a. Yeni *logatnya ketularan Teteh*
  34. Yaysirul Ulum Febriyanto a.k.a. Yasir *Kocak, suka main laptop, boyband bareng Arga, Riski, Yoyok*
  35. Yofin Aprilia Rizki a.k.a Yofin *my deskmate, suka doraemon, baik, narsis*
Kenapa bisa jatuh cinta?
Iya, disini jatuh cinta yang sebenarnya dan memang karena persahabatan.
Untuk yang sesungguhnya, tau lah.
Kalau untuk yang persahabatan itu, ada sesuatu yang nggak bisa diungkapin gitu. Unspeakable. Kebersamaanku sama mereka, itu sesuatu.
Moga-moga aja nggak pisah waktu kelas XII. Amiiiiin :*

Senin, 14 Mei 2012

Bagaimana Jika Kamu Bukan Takdirku?

Seperti apa yang dikatakan Tuhan, Ia menciptakan wanita dan pria, untuk nantinya saling berpasang-pasangan. Maka, Ia menciptakan aku dan kau, juga untuk saling berpasang-pasangan, bukan?
Dan sekarang, kita sedang mencoba berpasang-pasangan. Kasarnya, kita sedang memaksakan kondisi, dimana kita sebenarnya tidak tahu, siapa yang telah Tuhan takdirkan untuk kita. Ya, sekarang kita menjalin cinta. Mencoba untuk saling mengerti, memahami, dan melengkapi. Namun, pernahkah terbesit di otakmu, bahwa mungkin aku bukan tulang rusukmu?
Sekian lama kita jalin hubungan ini, aku mencoba mendampingimu, selaras denganmu, memahamimu, mencoba meneyelami jiwamu. Jika kau tanya apakah aku bahagia denganmu? Ya, aku bahagia. Aku seperti merasakan kedamaian jika berada di pelukmu, merindukan kehangatanmu ketika kau jauh dariku. Semuanya, kurasakan. Kita mencoba berbagi rasa, kehidupan, dan semua yang kita punya.
Bila ku katakan, aku merindukanmu, kau pun menjawab, ya, aku juga merindukanmu. Tapi, apakah sama rindu yang kita rasa? Apakah kau juga selalu memikirkanku? Apakah kau juga selalu mendoakanku seperti aku yang selalu mendoakanmu di akhir sujudku? Apakah hanya aku yang memenuhi ruang dihati dan otakmu? Apakah hanya aku yang sering merasuk dalam mimpimu?
Karena suatu hari, aku meneteskan air mata. Entah, apa yang memaksaku untuk memikirkan hal yang transparan. Masa depan. Dimana aku akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang. Dimana, aku akan bergelar nyonya, ibu, dan akhirnya nenek. Dan tahukah kau, apa yang aku pikirkan? Dengan siapakah aku menghabiskan waktu tuaku? Ketika aku menjawab “kamu” mengapa ada rasa yang tak sopan mennyeruak dari dalam hati? Semalaman aku memikirkannya, dan aku takut, masa depanku, bukan kamu.
Kita sering membicarakan tentang masa depan. Dan aku sering tergelak tawa karena leluconmu. Tentang kita yang akan saling menyayangi, membina sebuah keluarga yang akan kau pimpin menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, hingga kita terlelap dalam tidur yang panjang menghadap Sang Khalik. Kau kerap berkata, “Aku masa depanmu, dan kau masa depanku”. Sontak aku pun terharu, mendengar kau ingin memilikiku tidak hanya saat ini, tapi juga untuk masa yang akan datang. 
Bagaimana jika masa depanku bukan kamu? Bagaimana bila aku bukan tulang rusukmu? Bagaimana jika kamu bukan jodohku? Bagaimana jika Tuhan sudah menuliskan suratan bahwa bukan denganmu aku akan menghabiskan masa tuaku? Bagaimana, bagaimana, dan bagaimana jika suatu saat kita akan berpisah dan disadarkan oleh keputusan Ilahi, bahwa kau bukanlah belahan jiwaku? Ah, terlalu banyak pertanyaan yang terngiang di telingaku, tentangmu. Tentang kita, di masa depan.
Tapi, pernahkah kau merasa bimbang juga ikut mengalir ketika kau mengucapkan semua janji indah itu? Pernahkah kau bermimpi, bahwa Tuhan tak izinkan kita bersatu? Pernahkah ada bisikan dari dalam lubuk hatimu, bahwa aku bukan yang diciptakan Tuhan untuk berpasangan denganmu? Pernahkah kau juga merasa yang sama denganku, bahwa kita tidak akan sejalan untuk masa yang akan datang?
Seakan aku sudah lelah untuk mengetahui jawabannya, aku mencoba mengenyahkan semua  itu dalam otakku. Aku serahkan semuanya kepada Tuhan. Aku milikNya, dan kau pun juga milikNya. Jodoh? Itu juga urusan Tuhan. Biarkan Ia menuliskan cerita tentang makhlukNya, karena apapun yang telah Tuhan rencanakan akan berakhir dengan indah. Tapi, pintaku untukmu Tuhan, jika aku bukan belahan jiwanya, pisahkanlah kami secepatnya, sebelum aku terlanjur jatuh terlalu dalam kepada cintanya. Karena, akan sangat menyiksa, kala aku mencintainya berlebih, namun kala itu juga Kau tarik dia dari kehidupanku.

Who Do You Think You Are?


            Terkadang, jarak menjadi problematika dalam menjalin hubungan. Jarak menjadi jurang penghalang bagi kelancaran sebuah hubungan. Entah itu persahabatan, maupun berpacaran. Tentu saja, itu hanya awal dari sebuah rentetan rintangan yang mau tidak mau harus diterima oleh mereka yang melakukan hubungan LDR. LDR adalah long distance relationship. Artinya, pacaran jarak jauh. Nah, inilah letak kesinambungan antara jarak dan hubungan 2 orang manusia. Dari hal ini juga, kesetiaan diuji.

            Kamu bilang jarak antara kita indah. Ada rasa yang bisa kita tukar. Seperti aku merasakan apa yang kamu bagi dan kamu merasakan apa yang aku bagi. Lalu kita berdua mendadak terdiam, menyadari jarak dan waktu memang memisahkan kita. Secara harfiah. Kita hanya bisa merasakan rindu tanpa pernah benar-benar bisa menyelesaikannya. Kita merasakan degup jantung berdebar kencang, hanya dari membaca barisan kalimat di layar komputer jinjing masing-masing.
            Terakhir kali kita bertemu pun, tak kau gunakan dengan baik. Kau buang kesempatan terakhir kita untuk saling mengungkapkan isi hati, kau biarkan kekecewaan datang kepadaku, menghujam perasaanku. Ya, perasaanku yang galau, bimbang. Ingin sekali memaksamu tuk tetap disini, melanjutkan asa kita. Asa menyatukan hati, menyatukan cinta, tanpa harus terpisah ratusan kilo seperti ini.
            Masih terasa hangat dalam kenangan, kau bersumpah untuk akan segera kembali dan tetap masih milikku, milikku seutuhnya. Kau berjanji tak akan mengganti posisiku dengan siapapun dan apapun. Indah ya? Tanpa ba-bi-bu, aku langsung memelukmu, seakan aku benar-benar yakin bahwa suatu saat nanti, kau kembali dan masih tetap menjadi milikku.
            Namun, semua janji itu rupanya tak kau indahkan. Sudah hilang tak bersisa. Ditiup angin, laksana diluluhlantakkan tsunami. Ketika aku masih tetap menjaga apa yang telah kita rajut selama ini, ketika aku masih berusaha mengumpulkan puing-puing kenangan, dan ketika aku masih merasakan rindu akan hadirnya dirimu. Tapi kau malah menghempaskan apa yang telah kita rajut selama ini, kau malah membuyarkan puing-puing kenangan, dan kau malah mengganti objek rindumu.
Ya, objek rindumu telah berganti. Bukan aku, bukan aku, bukan aku. Bukan perempuan yang sedang berusaha tersenyum dalam pedihnya. Bukan perempuan yang berusaha menyayangi kekurangan dan kelebihanmu. Bukan perempuan yang tetap tegar dan kuat saat kau berada jauh darinya.
Mana janji manismu? Mana sumpahmu jika suatu saat nanti kau akan kembali dan masih tetap menjadi milikku? Apa semua itu hanya janji-janji palsu? Apa semua itu hanya alibi bahwa kau memang tidak menginginkan untuk melanjutkan semua ini? Dimana lelaki yang mengajarkanku kesetiaan tapi sekarang ia malah bermain api ketika jauh dariku? Dimana lelaki yang mengenalkanku apa itu cinta dan sekarang juga mengenalkannya kepada perempuan lain?
Kau tahu, bagaimana perasaanku saat itu? Aku lelah. Lelah meratapi, menangisi, dan menyesali semuanya. Ternyata semua hanya omong kosong belaka. Sepertinya, cintaku juga ikut mengalir bersama air mata yang keluar dari raga ini. Hatiku pun demikian. Mengenaskan. Penuh sayatan. Tak keruan bentuknya. Entah, kekuatan apa yang mampu memperbaikinya. Karena sudah terlalu buruk, dan selayaknya dibuang ke tempat sampah, dan biarkan hatiku didaur ulang menjadi hati yang baru. Atau, aku kembalikan kepada Tuhan, untuk kutukarkan hatiku dengan hati yang baru, dan aku hanya ingin mengisinya dengan cinta dari Ayah, Ibu, dan terutama, Tuhan.
Ketika aku sudah merasa mampu menata hati dan perasaanku, ketika aku sudah mampu benar-benar tersenyum tanpa air mata yang tersembunyi didalamnya, dan ketika aku sudah berhasil melupakanmu, kau datang. Kau datang kembali. Membawa sejuta harapan, membawa mimpi yang pernah kita rajut bersama. Who do you think you are? Seenaknya saja kau datang, lalu pergi. Datang lagi, pergi lagi. Dan sekarang kau dengan gagah berani menunjukkan batang hidungmu di hadapanku. Tak ingatkah kau atas apa yang telah terjadi? Kau meninggalkan hatiku, disana. Di tempat yang tak pernah kuinginkan hatiku ada disana. Tempat yang penuh dengan pengkhianatan, berteman sepi, amarah, tangis, dan semua hal yang berkaitan dengan kepedihan.
Maaf, jika kau terlalu pintar untuk melupakanku, menjalin cinta baru, dan sekarang memintaku lagi, aku juga tak terlalu bodoh untuk kau bodohi, kau bohongi, kau permainkan perasaanku, lalu sekarang menerimamu untuk menjadi bagian hidupku lagi. Maaf? Aku tak butuh maafmu. Percuma. Maaf tak kan mampu memperbaiki hatiku yang telah kau luluhlantakkan dengan ketidaksetiaanmu itu. Pergilah. Karena aku tak membutuhkan kehadiranmu lagi disini. Aku tak merasa rindu, kangen, dan semacamnya saat kau datang kembali. Karena kau juga telah merasakan bahagia, dicinta oleh Yang Mempunyai Cinta Sejati, karena Dia tak kan meninggalkanku, mengkhianatiku, seperti apa yang telah kau lakukan kepadaku.

Minggu, 13 Mei 2012

Dangdut, Identitas Bangsa Indonesia (?)

"Dangdut is the music of my country, my country, of my country
Dangdut is the music of my country, my country, of my country
Aaaaa, oh my country"


Pernah kan mendengar lagu tersebut?
Yap. Project Pop adalah penyanyi dari lagu tersebut.
Kedengarannya seru ya? Terdapat bait yang menyatakan bahwa, Indonesia ini memang kaya akan budaya, dan diantara kita harus saling menghormati perbedaan dari kebudayaan tersebut, bukan yang mayoritas malah mendiskriminasi yang minoritas.
Setuja *eh* setuju sama lagu itu.
Sesuai apa yang memang kita punyai, kekayaan ini terlalu indah untuk dimusnahkan.
Seharusnya bangga dong dengan apa yang kita punya.
Eits, tunggu dulu.
Yuk lihat dan tengok, sebenarnya apa sih yang ingin aku bicarakan disini.


Dangdut.


Biasanya yg lebih sering jadi penyanyi adalah perempuan, dan mayoritas penontonnya laki-laki.
Why?
Ah, wanita dianugerahkan kecantikan fisik oleh Tuhan, tentu saja lelaki penikmatnya.
Menikmati itu akan menjadi haram, apabila dilihat bukan dengan muhrimnya. Namun, akan menjadi halal setelah menjadi muhrimnya.
Tapi, lihat deh. 
Kebanyakan penyanyi dangdut itu, maaf ya. Kekurangan kain. Nggak tau masalah finansial atau emang sengaja memamerkan kemolekan tubuh yang ia punya. 
Mukanya juga terlihat terlalu over di make-up.
Perempuan cantik, meski dengan make-up yang tipis sudah tampak kecantikannya, berarti mereka? Simpulkan saja sendiri :) 
Belum lagi ditambah goyangannya, yang.... MasyaAllah. Terlampau batas. Mengundang nafsu yang seharusnya bisa ditahan.
Maunya apa coba dengan bergoyang seperti itu? Mau tampak seksi?
Hey, lihat deh Farah Quinn. Dia koki, model, dan aktris. Cantik dan seksi. Dia bukan penyanyi dangdut yang suka mengumbar aurat lho. Pakaiannya yang tertutup dan kulitnya yang eksotis, itu menambah nilai keseksiannya, disamping aura seksi yang telah terpancar dari hatinya.
Intinya, seksi nggak harus ngumbar aurat.


Wow, seperti itukah identitas bangsa Indonesia?
Bangsa yang suka memamerkan auratnya untuk dinikmati yang bukan muhrimnya?
Bangsa yang norak, suka bertingkah laku seperti binatang yang tak tahu aturan, bagaimana dia menghibur penontonnya?
Bangsa yang gemar dicap SEKSI dengan semua tingkah lakunya yang terkesan kampungan itu?
Bagaimana dangdut bisa naik kelas, selevel dengan pop, atau bahkan jazz?
Bagaimana dangdut bisa populer di mata dunia dengan image yang baik sebagai karakteristik bangsa Indonesia?


Bukan bermaksud menggurui sih, banyak lho artis penyanyi dangdut yang cantik, make-up nya nggak menor, goyangannya masih dalam batas yang normal, dan bisa berada di panggung yang sama dengan penyanyi papan atas.
Contohnya, Cici Paramida, Ike Nurjannah, Ayu Ting-ting, Uut Permatasari. Selebihnya, aku kurang memerhatikan. Hehe.


Yuk, mulai dari sekarang, kita semua berusaha menciptakan image yang baik di mata dunia, bahwa musik Indonesia bukanlah musik murahan, yang nggak hanya bisa dinikmati sama kalangan kelas bawah, kalangan kelas atas pun bisa enjoy dengan dangdut.

Untukmu, Kekasih Baru Mantan Kekasihku


Hai, perempuan cantik.
Mengapa aku memanggilmu cantik?
Karena aku tahu, mantanku punya selera yang bagus dalam memilih pacar.
Hai, perempuan pintar.
Mengapa aku memanggilmu pintar?
Karena aku tahu, mantanku selalu membanggakan kemampuan otakmu.
Hai, perempuan baik.
Mengapa aku memanggilmu baik?
Karena aku tahu, mantanku selalu mengelukan yang baik-baik tentangmu.
Aku tahu dirimu, dan kau tahu diriku.
Kita berteman.
Dulu, dia milikku. Yang pernah teristimewa di hatiku. Yang pernah menduduki tahta tertinggi di hatiku. Salah satu hal yang membuatku bersyukur akan hadirnya cinta.
Tapi itu dulu, sebelum semuanya menjadi seperti ini. Semenjak hatiku terpisah dengan hatinya. Sebelum aku memutuskan untuk lebih memilih bahagia dengan yang lain. Sebelum aku bermain api dibelakangnya. Sebelum aku mengendurkan pelukan eratnya. Sebelum aku melepaskan pegangan tangannya. Sebelum aku merubah kebahagiaannya menjadi kesedihan. Sebelum dia menangisi kepergianku. Sebelum dia menyesali perbuatanku. Sebelum janji itu teringkari.
Kini, dia menjadi milikmu. Menjadi yang teristimewa untukmu. Menjadi yang terkasih untukmu. Menjadi alasan mengapa dia. Menjadi alasan mengapa dia harus menghapus airmatanya. Menjadi alasan mengapa dia tegas untuk melupakan aku, dan kita yang telah pupus di masa lalu. Menjadi alasan mengapa dia harus membuka lembaran baru untuk melanjutkan hidupnya. Menjadi yang selalu menghangatkan malammu. Menjadi yang selalu mencerahkan pagimu. Menjadi yang tidak pernah absen berada di mimpimu. Menjadi yang tidak pernah absen di dalam tautan doamu.
Sebagai yang terdahulu, aku hanya berpesan kepadamu. Jagalah dia baik-baik, seperti dia menjagaku dulu dan menjagamu kini. Sayangi dan cintai dia, seperti dia mencintaiku dulu dan mencintaimu kini. Setialah kepadanya, seperti dia setia kepadaku dulu dan kepadamu kini.
Aku dulu yang mungkin terbaik untuknya. Tapi kini, aku yakin kau yang terbaik untuknya. Bukan bermaksud sombong, aku dulu memang yang nomor satu di hatinya. Bertahun-tahun tiada yang bisa menggeser posisiku itu. Tapi, nyatanya kau bisa. Selamat bersenang-senang, temanku dan mantanku. Semoga bahagia selalu menyertai kalian. Aku turut berbahagia untuk kalian.
Temanmu dan mantan kekasihmu.

Seremonial dalam Rangka Selebrasi HUT Ki Hajar Dewantara


             Coba periksa kalender! Tanggal 2 Mei 2012 adalah tanggal berwarna merah, bukan? Ada yang tau? *bukan, bukan tanggalnya lagi datang bulan* *bukan, bukan tanggalnya lagi marah* Terus apa dong? Itu adalah perayaan Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, yang tidak lain adalah hari ulang tahun Ki Hajar Dewantara. Who is he? Beliau adalah Bapak Pendidikan Indonesia. Berkat beliaulah, pendidikan kita dapat diperjuangkan di masa penjajahan dan kini kita dapat mengenyam ilmu di bangku pendidikan, entah itu TK, SD, SMP, SMA, dan bangku kuliah.
                Biasanya, peringatan HUT seseorang berupa pesta, tasyakuran, atau bermacam-macam cara untuk merayakan hari jadinya. Namun, ini berbeda. Sudah menjadi tradisi rakyat Indonesia, pada tanggal 2 Mei selalu diadakan upacara dalam rangka memperingati HUT Ki Hajar Dewantara tersebut. Disana, para pemimpin daerah akan memberikan sepatah-dua patah kata *tapi sepatah-dua patah kata kok sampai berjam-jam ya?* tentang makna seremonial selebrasi HUT Ki Hajar Dewantara. Berisi petuah-petuah yang berguna untuk masa yang akan datang. Dihadiri oleh pejabat setempat, para guru, PNS, serta murid-murid.
                Aku setuju-setuju aja, dengan adanya seremonial selebrasi HUT Ki Hajar Dewantara ini sebagai bentuk apresiasi kepada beliau atas jasanya yang sungguh tak ternilai harganya bagi bangsa kita. Namun, nyatanya? Terdapat banyak hal, yang menurutku seharusnya diperbaiki dari masa ke masa.
                Jam karet Indonesia. *bukan maksudnya jam dari karet yang ber-merk Indonesia lho* Itu merupakan tradisi yang entah awal dan akhirnya tidak kita ketahui. Benar-benar bukan sikap yang harus dicontoh dari bangsa ini. Acara dijadwalkan akan dimulai jam 7, namun nyatanya? 3 jam kemudian baru dimulai. Siapa yang bersalah? I don’t know. Kalau saya menyebut salah satu pihak disini, bisa-bisa berabe. Lebih baik jaga diri.
                Menggerutu? Jelas. Bagaimana tidak, kebanyakan peserta upacara sudah memadati lapangan upacara pada pukul 7 pagi. Kota kecil rasanya seperti di Surabaya. Padat oleh hiruk pikuk manusia yang mulai jenuh menunggu. Siapapun tidak suka menunggu. Dilengkapi dengan terik matahari yang terlihat begitu bersemangat untuk membakar amarah semangat orang-orang waktu itu.
                Jangan menghukum orang yang datang tepat waktu. Jangan membiarkan orang terlalu lama menunggu. Jangan berpikir karena jabatannya yang paling tinggi bisa seenaknya mengulur waktu. Sepertinya, mayoritas dari yang mengikuti upacara adalah orang dewasa. Apakah mereka tidak bisa membuat time management yang baik? Salahkah jika terdengar suara dengusan ketika acara dimulai sangat mengulur waktu? Saya tahu, mungkin kesibukannya melebihi artis ibukota yang sedang syuting sinetron kejar tayang. Tapi, setidaknya tengoklah masyarakat. Perhatikan kami, sebagai anggota keluarga. Bayangkan rasanya jadi penunggu. Berkenankah Anda untuk sesaat saja berganti posisi dengan kami, dengan kami yang terlalu sering men-judge bahwa Anda bukanlah orang yang on-time?
                Selanjutnya. Saya pernah mendengar sebuah perkataan dari seseorang “Seharusnya, murid-murid itu datang mengikuti upacara ini dengan hati yang penuh riang gembira, menyambut hari ualng tahun Bapak Pendidikan kita.” Hai, Bapak yang sangat budiman. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Anda, tentu kami sebagai murid-murid akan sangat berbangga dan penuh semangat ’45 untuk mengikuti seremonial ini APABILA waktu tidak diulur sepanjang itu.
Saya rasa, tidak mengikuti upacara ini namun benar-benar berjuang memajukan pendidikan Indonesia LEBIH BAIK daripada berdiri di lapangan, memasang wajah sok pura-pura semangat, namun dalam hatinya menggerutu. Buat apa menjalankan sesuatu yang tidak dilaksanakan dengan sepenuh hati? Buang-buang waktu, tenaga, dan emosi saja, benar bukan? Janganlah menjadi pejabat/pemimpin yang gila hormat. Maunya hanya dihormati, tapi tidak ingin menghormati. Kita semua sama di mata Tuhan. Dia tidak membedakan kami ini adalah rakyat jelata dan Anda adalah seorang pemimpin/pejabat. Jadi, belajarlah untuk lebih bisa menghormati waktu. Bukankah Anda dipilih dalam pemilu berdasarkan kepercayaan rakyat kepada Anda? Kalau sudah seperti ini? Hanya ada rasa kecewa, bukan bangga apalagi akan menghormati Anda dengan sepenuh hati.
Suatu hari, saya menginginkan generasi muda benar-benar menjadi pemimpin yang arif, bijaksana, mampu mengatur waktu dengan baik, bisa saling tenggang rasa, bisa mendengar jeritan hati rakyatnya, dan mampu melayani rakyatnya dengan setulus hati. Yang merupakan pilihan hati dan logika rakyatnya. Mengapa hati dan logika? Semua hal harus dilaksanakan berlandaskan 2 hal tersebut. Tanpa hati, kita tidak akan mempunyai sikap manusiawi. Tanpa logika, kita tidak akan pandai dalam mengatur suatu hal. Seperti yang sekarang ini? Saya tidak melihat keduanya berjalan seimbang. Bukankah, para pemimpin merupakan TELADAN bagi seluruh rakyatnya? Kalau pemimpin saja tidak bisa melakukan hal yang baik, bagaimana dengan rakyatnya?
Mohon maaf apabila terlalu banyak menuntut. Namun, tuntutan itulah yang harus Anda penuhi guna menjadi teladan bagi kami, para generasi muda. Berikanlah contoh yang baik bagi kami, sehingga kamu juga bisa memberikan hal yang baik untuk Indonesia di masa yang akan datang.