Minggu, 13 Mei 2012

Seremonial dalam Rangka Selebrasi HUT Ki Hajar Dewantara


             Coba periksa kalender! Tanggal 2 Mei 2012 adalah tanggal berwarna merah, bukan? Ada yang tau? *bukan, bukan tanggalnya lagi datang bulan* *bukan, bukan tanggalnya lagi marah* Terus apa dong? Itu adalah perayaan Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, yang tidak lain adalah hari ulang tahun Ki Hajar Dewantara. Who is he? Beliau adalah Bapak Pendidikan Indonesia. Berkat beliaulah, pendidikan kita dapat diperjuangkan di masa penjajahan dan kini kita dapat mengenyam ilmu di bangku pendidikan, entah itu TK, SD, SMP, SMA, dan bangku kuliah.
                Biasanya, peringatan HUT seseorang berupa pesta, tasyakuran, atau bermacam-macam cara untuk merayakan hari jadinya. Namun, ini berbeda. Sudah menjadi tradisi rakyat Indonesia, pada tanggal 2 Mei selalu diadakan upacara dalam rangka memperingati HUT Ki Hajar Dewantara tersebut. Disana, para pemimpin daerah akan memberikan sepatah-dua patah kata *tapi sepatah-dua patah kata kok sampai berjam-jam ya?* tentang makna seremonial selebrasi HUT Ki Hajar Dewantara. Berisi petuah-petuah yang berguna untuk masa yang akan datang. Dihadiri oleh pejabat setempat, para guru, PNS, serta murid-murid.
                Aku setuju-setuju aja, dengan adanya seremonial selebrasi HUT Ki Hajar Dewantara ini sebagai bentuk apresiasi kepada beliau atas jasanya yang sungguh tak ternilai harganya bagi bangsa kita. Namun, nyatanya? Terdapat banyak hal, yang menurutku seharusnya diperbaiki dari masa ke masa.
                Jam karet Indonesia. *bukan maksudnya jam dari karet yang ber-merk Indonesia lho* Itu merupakan tradisi yang entah awal dan akhirnya tidak kita ketahui. Benar-benar bukan sikap yang harus dicontoh dari bangsa ini. Acara dijadwalkan akan dimulai jam 7, namun nyatanya? 3 jam kemudian baru dimulai. Siapa yang bersalah? I don’t know. Kalau saya menyebut salah satu pihak disini, bisa-bisa berabe. Lebih baik jaga diri.
                Menggerutu? Jelas. Bagaimana tidak, kebanyakan peserta upacara sudah memadati lapangan upacara pada pukul 7 pagi. Kota kecil rasanya seperti di Surabaya. Padat oleh hiruk pikuk manusia yang mulai jenuh menunggu. Siapapun tidak suka menunggu. Dilengkapi dengan terik matahari yang terlihat begitu bersemangat untuk membakar amarah semangat orang-orang waktu itu.
                Jangan menghukum orang yang datang tepat waktu. Jangan membiarkan orang terlalu lama menunggu. Jangan berpikir karena jabatannya yang paling tinggi bisa seenaknya mengulur waktu. Sepertinya, mayoritas dari yang mengikuti upacara adalah orang dewasa. Apakah mereka tidak bisa membuat time management yang baik? Salahkah jika terdengar suara dengusan ketika acara dimulai sangat mengulur waktu? Saya tahu, mungkin kesibukannya melebihi artis ibukota yang sedang syuting sinetron kejar tayang. Tapi, setidaknya tengoklah masyarakat. Perhatikan kami, sebagai anggota keluarga. Bayangkan rasanya jadi penunggu. Berkenankah Anda untuk sesaat saja berganti posisi dengan kami, dengan kami yang terlalu sering men-judge bahwa Anda bukanlah orang yang on-time?
                Selanjutnya. Saya pernah mendengar sebuah perkataan dari seseorang “Seharusnya, murid-murid itu datang mengikuti upacara ini dengan hati yang penuh riang gembira, menyambut hari ualng tahun Bapak Pendidikan kita.” Hai, Bapak yang sangat budiman. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Anda, tentu kami sebagai murid-murid akan sangat berbangga dan penuh semangat ’45 untuk mengikuti seremonial ini APABILA waktu tidak diulur sepanjang itu.
Saya rasa, tidak mengikuti upacara ini namun benar-benar berjuang memajukan pendidikan Indonesia LEBIH BAIK daripada berdiri di lapangan, memasang wajah sok pura-pura semangat, namun dalam hatinya menggerutu. Buat apa menjalankan sesuatu yang tidak dilaksanakan dengan sepenuh hati? Buang-buang waktu, tenaga, dan emosi saja, benar bukan? Janganlah menjadi pejabat/pemimpin yang gila hormat. Maunya hanya dihormati, tapi tidak ingin menghormati. Kita semua sama di mata Tuhan. Dia tidak membedakan kami ini adalah rakyat jelata dan Anda adalah seorang pemimpin/pejabat. Jadi, belajarlah untuk lebih bisa menghormati waktu. Bukankah Anda dipilih dalam pemilu berdasarkan kepercayaan rakyat kepada Anda? Kalau sudah seperti ini? Hanya ada rasa kecewa, bukan bangga apalagi akan menghormati Anda dengan sepenuh hati.
Suatu hari, saya menginginkan generasi muda benar-benar menjadi pemimpin yang arif, bijaksana, mampu mengatur waktu dengan baik, bisa saling tenggang rasa, bisa mendengar jeritan hati rakyatnya, dan mampu melayani rakyatnya dengan setulus hati. Yang merupakan pilihan hati dan logika rakyatnya. Mengapa hati dan logika? Semua hal harus dilaksanakan berlandaskan 2 hal tersebut. Tanpa hati, kita tidak akan mempunyai sikap manusiawi. Tanpa logika, kita tidak akan pandai dalam mengatur suatu hal. Seperti yang sekarang ini? Saya tidak melihat keduanya berjalan seimbang. Bukankah, para pemimpin merupakan TELADAN bagi seluruh rakyatnya? Kalau pemimpin saja tidak bisa melakukan hal yang baik, bagaimana dengan rakyatnya?
Mohon maaf apabila terlalu banyak menuntut. Namun, tuntutan itulah yang harus Anda penuhi guna menjadi teladan bagi kami, para generasi muda. Berikanlah contoh yang baik bagi kami, sehingga kamu juga bisa memberikan hal yang baik untuk Indonesia di masa yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar