Coba periksa kalender! Tanggal 2
Mei 2012 adalah tanggal berwarna merah, bukan? Ada yang tau? *bukan, bukan
tanggalnya lagi datang bulan* *bukan, bukan tanggalnya lagi marah* Terus apa
dong? Itu adalah perayaan Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap
tanggal 2 Mei, yang tidak lain adalah hari ulang tahun Ki Hajar Dewantara. Who
is he? Beliau adalah Bapak Pendidikan Indonesia. Berkat beliaulah, pendidikan
kita dapat diperjuangkan di masa penjajahan dan kini kita dapat mengenyam ilmu
di bangku pendidikan, entah itu TK, SD, SMP, SMA, dan bangku kuliah.
Biasanya,
peringatan HUT seseorang berupa pesta, tasyakuran, atau bermacam-macam cara
untuk merayakan hari jadinya. Namun, ini berbeda. Sudah menjadi tradisi rakyat
Indonesia, pada tanggal 2 Mei selalu diadakan upacara dalam rangka memperingati
HUT Ki Hajar Dewantara tersebut. Disana, para pemimpin daerah akan memberikan
sepatah-dua patah kata *tapi sepatah-dua patah kata kok sampai berjam-jam ya?*
tentang makna seremonial selebrasi HUT Ki Hajar Dewantara. Berisi petuah-petuah
yang berguna untuk masa yang akan datang. Dihadiri oleh pejabat setempat, para
guru, PNS, serta murid-murid.
Aku
setuju-setuju aja, dengan adanya seremonial selebrasi HUT Ki Hajar Dewantara
ini sebagai bentuk apresiasi kepada beliau atas jasanya yang sungguh tak
ternilai harganya bagi bangsa kita. Namun, nyatanya? Terdapat banyak hal, yang
menurutku seharusnya diperbaiki dari masa ke masa.
Jam
karet Indonesia. *bukan maksudnya jam dari karet yang ber-merk Indonesia lho*
Itu merupakan tradisi yang entah awal dan akhirnya tidak kita ketahui.
Benar-benar bukan sikap yang harus dicontoh dari bangsa ini. Acara dijadwalkan
akan dimulai jam 7, namun nyatanya? 3 jam kemudian baru dimulai. Siapa yang
bersalah? I don’t know. Kalau saya menyebut salah satu pihak disini, bisa-bisa
berabe. Lebih baik jaga diri.
Menggerutu?
Jelas. Bagaimana tidak, kebanyakan peserta upacara sudah memadati lapangan
upacara pada pukul 7 pagi. Kota kecil rasanya seperti di Surabaya. Padat oleh
hiruk pikuk manusia yang mulai jenuh menunggu. Siapapun tidak suka menunggu.
Dilengkapi dengan terik matahari yang terlihat begitu bersemangat untuk
membakar amarah semangat orang-orang waktu itu.
Jangan
menghukum orang yang datang tepat waktu. Jangan membiarkan orang terlalu lama
menunggu. Jangan berpikir karena jabatannya yang paling tinggi bisa seenaknya
mengulur waktu. Sepertinya, mayoritas dari yang mengikuti upacara adalah orang
dewasa. Apakah mereka tidak bisa membuat time
management yang baik? Salahkah jika terdengar suara dengusan ketika acara
dimulai sangat mengulur waktu? Saya tahu, mungkin kesibukannya melebihi artis
ibukota yang sedang syuting sinetron kejar tayang. Tapi, setidaknya tengoklah
masyarakat. Perhatikan kami, sebagai anggota keluarga. Bayangkan rasanya jadi
penunggu. Berkenankah Anda untuk sesaat saja berganti posisi dengan kami,
dengan kami yang terlalu sering men-judge bahwa Anda bukanlah orang yang on-time?
Selanjutnya.
Saya pernah mendengar sebuah perkataan dari seseorang “Seharusnya, murid-murid
itu datang mengikuti upacara ini dengan hati yang penuh riang gembira,
menyambut hari ualng tahun Bapak Pendidikan kita.” Hai, Bapak yang sangat
budiman. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Anda, tentu kami sebagai
murid-murid akan sangat berbangga dan penuh semangat ’45 untuk mengikuti
seremonial ini APABILA waktu tidak diulur sepanjang itu.
Saya rasa,
tidak mengikuti upacara ini namun benar-benar berjuang memajukan pendidikan
Indonesia LEBIH BAIK daripada berdiri di lapangan, memasang wajah sok pura-pura
semangat, namun dalam hatinya menggerutu. Buat apa menjalankan sesuatu yang
tidak dilaksanakan dengan sepenuh hati? Buang-buang waktu, tenaga, dan emosi
saja, benar bukan? Janganlah menjadi pejabat/pemimpin yang gila hormat. Maunya hanya dihormati, tapi tidak ingin menghormati. Kita semua sama di mata Tuhan. Dia tidak membedakan kami ini adalah rakyat jelata dan Anda adalah seorang pemimpin/pejabat. Jadi, belajarlah untuk lebih bisa menghormati waktu. Bukankah Anda dipilih dalam pemilu berdasarkan kepercayaan rakyat kepada Anda? Kalau sudah seperti ini? Hanya ada rasa kecewa, bukan bangga apalagi akan menghormati Anda dengan sepenuh hati.
Suatu hari,
saya menginginkan generasi muda benar-benar menjadi pemimpin yang arif,
bijaksana, mampu mengatur waktu dengan baik, bisa saling tenggang rasa, bisa
mendengar jeritan hati rakyatnya, dan mampu melayani rakyatnya dengan setulus
hati. Yang merupakan pilihan hati dan logika rakyatnya. Mengapa hati dan
logika? Semua hal harus dilaksanakan berlandaskan 2 hal tersebut. Tanpa hati,
kita tidak akan mempunyai sikap manusiawi. Tanpa logika, kita tidak akan pandai
dalam mengatur suatu hal. Seperti yang sekarang ini? Saya tidak melihat
keduanya berjalan seimbang. Bukankah, para pemimpin merupakan TELADAN bagi
seluruh rakyatnya? Kalau pemimpin saja tidak bisa melakukan hal yang baik,
bagaimana dengan rakyatnya?
Mohon maaf
apabila terlalu banyak menuntut. Namun, tuntutan itulah yang harus Anda penuhi
guna menjadi teladan bagi kami, para generasi muda. Berikanlah contoh yang baik
bagi kami, sehingga kamu juga bisa memberikan hal yang baik untuk Indonesia di
masa yang akan datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar